Langsung ke konten utama

Potret kesetaraan di reruntuhan


Pameran fotografi di reruntuhan bangunan rumah deret Tamansari, Kota Bandung. (Foto: Mukhlis Dinillah)

Bandung - Ratusan karya foto mejeng di antara reruntuhan bangunan penggusuran untuk rumah deret (rudet) di kawasan Tamansari, Kota Bandung. Hasil jepretan sekelompok fotografer ini bercerita beragam perspektif kesetaraan manusia dan kemerdekaan dalam kehidupan sosial.

Pameran foto bertajuk 'Egalite' ini merupakan inisiasi fotografer yang tergabung dalam Sub-Unit Photo's Speak. Total ada 113 karya hasil 'perburuan' 12 orang fotografer dari berbagai latar belakang yang berbeda.

Baca juga: Kobarkan Jiwa Pahlawan Warga Bandung dengan Perangi Hoaks

Misalnya karya foto milik Thoudy Badai Rifanbillah menceritakan kehidupan seorang veteran perang bernama Abah Ono yang hidup di dalam rumah kumuh berukuran 4x7 meter. Ia harus berbagi ruangan bersama dua anak dan enam cucunya.

Kondisi itu tak lantas membuat Abah Ono mengemis simpati. Merasa bangga adalah pilihannya, karena menjadi salah satu pelaku sejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Foto: Mukhlis Dinillah

Lain lagi foto yang dipamerkan oleh Djuli Pamungkas. Dalam karya fotonya, menggambarkan pembangunan tak melulu menghadirkan kebahagiaan. Karena ada pihak yang dikorbankan mulai dari penggusuran rumah, hingga tergerusnya ruang terbuka hijau.

Pembangunan yang terjadi di Kawasan Bandung Utara (KBU), daerah Dago Elos dan pemukiman di Tamansari dipilih menjadi contoh dalam ironi yang terjadi.

Baca juga: Sebelum Bangun Rumah Deret, Pemkot Bandung Akan Amankan Aset

Tak hanya di Kota Bandung, potret mengenai tajuk kesetaraan itu didapatkan di wilayah Kota Jakarta. Jamal Ramadhan, fotografer lainnya, menampilkan kisah perjuangan sebagian warga Ibu Kota dalam mendapatkan air bersih.

Termasuk Adi Maulana Ibrahim yang memilih untuk memotret cerita para pencari suaka dari Timur Tengah dan Afrika yang hidup dalam ketidakpastian. Mereka meninggalkan negaranya karena merasa jengah dan takut atas konflik yang tidak tahu kapan usai.

Foto: Mukhlis Dinillah

Penyelenggara pameran, Sutanto Nurhadi Permana mengatakan kesetaraan menjadi isu yang serius dan berkembang saat ini. Apalagi bertepatan dengan HUT ke-74 Indonesia yang konsepsi mengenai hal ini selalu kontradiksi dalam keseharian.

"Di ranah kemerdekaan, kesetaraan yang menjadi konsepsi awal munculnya kemerdekaan pun semakin bias. Ini yang mendasari kami mengapa menggelar pameran dengan tema Egalite," kata Sutanto kepada wartawan, Minggu (18/8/2019).

Baca juga: Diusulkan Fadli Zon Jadi Ibu Kota Baru, Ini Unggulnya Jonggol

Para fotografer berusaha merefleksikan pandangannya itu melalui medium foto cerita. Tujuannya, mengajak siapapun untuk memahami kembali sejauh mana makna kesetaraan telah diaplikasikan di lingkungan terutama dalam momen kemerdekaan.

"Apakah benar kita sudah setara? Apakah benar kita sudah merdeka? Kira-kira itu yang melatarbelakangi adanya pameran ini. Namun, para pengunjung pun kami bebaskan menginterpretasikan makna kesetaraan dan kemerdekaan," ujar Sutanto.

Pameran ini berlangsung dari tanggal 17 hingga 31 Agustus 2019. Selain menampilkan foto, acara tersebut diisi pula oleh diskusi fotografi bersama jurnalis foto, Arif Hidayah. Lalu nobar film pendek bertajuk "Halo-halo Bandung" karya Nafsu Visual dan "Famulus" karya Flowfilmproject. (YD1JNI)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Friedrich Silaban, Arsitek Masjid Istiqlal Penganut Kristen Protestan

Arsitek Friedrich Silaban yang merancang Masjid Istiqlal Jakarta. Foto: thejourney.home.co.id JAKARTA  -  Masjid Istiqlal  merupakan salah satu simbol Kemerdekaan RI. Namun uniknya, Masjid Istiqlal dirancang oleh  arsitek  penganut Kristen Protestan Friedrich Silaban.  Masjid Istiqlal dibangun setelah kemerdekaan. Para tokoh Islam berkumpul untuk mencetuskan ide mendirikan sebuah masjid. Mereka antara lain Wahid Hasyim, Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan berbagai elemen masyarakat. Baca juga:  Benteng Bastion Frederick Hendrik: Simbol Kolonial yang Diruntuhkan Bung Karno   Setahun kemudian, tepatnya 7 Desember 1954, dibentuklah yayasan yang difungsikan sebagai panitia pendirian masjid. Sebelumnya, telah disepakati nama istiqlal sebagai nama masjid, dimana dalam bahasa Arab memiliki arti Kemerdekaan. Masjid yang terletak di bekas Taman Wilhelmina, sisi Timur Lapangan Medan Merdeka yang di tengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas), merupakan sala...

Longsor terjadi di enam titik kawasan Parongong, 

Longsor di kawasan Parongpong Bandung Barat. (Foto: Rachmadi Rasyad) Bandung Barat  - Longsor terjadi di enam titik kawasan Parongong, Kabupaten Bandung Barat, akibat hujan intensitas tinggi yang mengguyur sejak hari Jumat hingga Minggu. Lokasi longsor berada tersebar di lima RW yang masuk wilayah Desa Ciwaruga. Bencana longsor itu terjadi di RW 8, 5, 7, 20, dan 6. Pantauan di lokasi, Senin (17/12/2018), titik longsor paling parah melanda RW 7 karena mengakibatkan akses terputus. Saat ini, beberapa meter dari titik longsor telah dipasang pembatas yang menandakan bahwa jalan dilarang dilewati kendaraan. Uus (40), warga RT 1 RW 7, menuturkan longsor di RW 7 selain mengakibatkan akses jalan terputus, juga menghambat pasokan air bersih bagi warga karena saluran pipa air tertimbun oleh reruntuhan tanah. "Air warga desa terganggu karena pipa tertimbun," kata dia di lokasi. Uus menyebut petugas BPBD Kabupaten Bandung Barat pagi tadi telah meninjau langsung ke lokasi bencana. ...

Dianggap Menista Agama, 'Pernikahan Pria dengan Domba' Diadukan ke Polisi.

Video viral pria menikahi domba di Gresik. (Jemmi Purwodianto/detikJatim) Jakarta  -  Geger pernikahan seorang pria dengan domba di Gresik,  Jawa Timur . Pernikahan itu diadukan ke polisi. Video pria menikahi domba itu diunggah di YouTube 'rey toet tv' berjudul 'Viral! Pernikahan Pria Asal Gresik Menikahi Seekor Domba katanya Dapat Wangsit'. Pengunggah video menyebut pernikahan itu hanya demi konten. Namun sekelompok orang yang menamakan diri Wong Cerdas (WC) Gresik mendatangi Mapolres Gresik. Mereka mengadukan seluruh pihak terlibat 'pernikahan manusia dengan domba' ke polisi. Baca juga: Heboh Video Viral Pria Menikahi Domba di Gresik Pimpinan WC Gresik, Abdullah Syafii, mengatakan pernikahan dalam konten tersebut telah menistakan agama. Syafii juga menyebut proses pernikahan manusia dengan domba itu seolah-olah dilakukan secara Islam. "Silakan melakukan klarifikasi apa pun bentuknya, itu hak mereka. Meski konten belaka, kalau soal penistaan atau pelecehan...